Apa yang kita sebut doa selama ini masih ekslusif pada pemahaman waktu yg spesifik dan sifatnya masih pada batasan mekanis dan ritual.
Doa sesungguhnya tidak lebih dari perasaan yang kita persembahkan kepada Tuhan. Perasaan itu dapat berupa rasa syukur, kerendahatian, penyerahan diri, permohonan dan lain sebagainya.
Selama ini pengertian
kita tentang doa masih dalam tahapan meminta atau mungkin mengagungkan
Tuhan, memuja dll. Namun di makna yang hakiki doa adalah tentang
"memberi".
Tuhan Maha sempurna,memiliki segalanya, namun mengapa kita mempersembahkn kepada Tuhan jika beliau telah memiliki segalanya? Kitab suci Veda menyebutkan bahwa ketika kita mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, kita sesungguhnya sedang menyerahkan/memberi rasa kepemilkan kita atas semua hal kepada Tuhan. Rasa memiliki atas segala hal di dunia ini begitu kuat hadir pada setiap jiva, melalui proses berdoa dalam sarana korban suci berangsur -angsur rasa kepemilikan kita terhadap semua hal di dunia ini terkikis. Ini contoh sederhana bagaimana berdoa melalui proses korban suci secara hakiki bermakna menyerahkan/memberikan rasa kepemilikan kita terhadap Tuhan.
Jadi sederhananya jika kita memahami doa hanya sebatas meminta, memuji, memuja dll kita sesungguhnya memahami doa masih sebagai konsep ritual. Namun ketika seseorang mulai memahami konsep doa sebagai pengembangan diri dan persembahan rasa terhadap Tuhan setiap saat Ia akan "ketagihan" berdoa kepada Tuhan. Karena semua bukan tentang dikabulkan namun tentang ungkapan dan persembahan rasa-rasa kita kepada Tuhan. Mungkin karena itu doa disebut dengan ibadah.
Seseorang Vaisnava hidup 24 jam dalam doa kepada Tuhan, yang dimaksudkan adalah Ia senantiasa terkoneksi dalam "perasaanya" kepada Tuhan. Perasaan yg bersyukur, rendah hati dan berserah diri selalu ia rasakan setiap saat.
Ketika kita merasa sedih saat ini, rasakan kesedihan itu, "Tuhan saya sedih saat ini, namun saya menerima hal ini sebagai pembelajaran dan sebagai alat saya untuk meningkatkan diri, berikan hamba karunia anda untuk menjalaninya lebih baik". Bukankah itu yang kita sebut doa selama ini yakni suatu kumpulan emosi dan rasa "penerimaan" yg selanjutnya seseorang persembahkan kepada Tuhan sebagai wujud harapan.
Segala keadaan dan emosi yang kita rasakan selama hidup ini sesungguhnya merupakan pundi-pundi doa yang telah lama kita sia-siakan. Mari kita berdoa, setiap saat, setiap waktu, hingga pada akhirnya kita akan di dekatkan kepada Tuhan dan mempunyai penyerahan diri dan selalu mengingatNya di segala kondisi.
Tuhan Maha sempurna,memiliki segalanya, namun mengapa kita mempersembahkn kepada Tuhan jika beliau telah memiliki segalanya? Kitab suci Veda menyebutkan bahwa ketika kita mempersembahkan sesuatu kepada Tuhan, kita sesungguhnya sedang menyerahkan/memberi rasa kepemilkan kita atas semua hal kepada Tuhan. Rasa memiliki atas segala hal di dunia ini begitu kuat hadir pada setiap jiva, melalui proses berdoa dalam sarana korban suci berangsur -angsur rasa kepemilikan kita terhadap semua hal di dunia ini terkikis. Ini contoh sederhana bagaimana berdoa melalui proses korban suci secara hakiki bermakna menyerahkan/memberikan rasa kepemilikan kita terhadap Tuhan.
Jadi sederhananya jika kita memahami doa hanya sebatas meminta, memuji, memuja dll kita sesungguhnya memahami doa masih sebagai konsep ritual. Namun ketika seseorang mulai memahami konsep doa sebagai pengembangan diri dan persembahan rasa terhadap Tuhan setiap saat Ia akan "ketagihan" berdoa kepada Tuhan. Karena semua bukan tentang dikabulkan namun tentang ungkapan dan persembahan rasa-rasa kita kepada Tuhan. Mungkin karena itu doa disebut dengan ibadah.
Seseorang Vaisnava hidup 24 jam dalam doa kepada Tuhan, yang dimaksudkan adalah Ia senantiasa terkoneksi dalam "perasaanya" kepada Tuhan. Perasaan yg bersyukur, rendah hati dan berserah diri selalu ia rasakan setiap saat.
Ketika kita merasa sedih saat ini, rasakan kesedihan itu, "Tuhan saya sedih saat ini, namun saya menerima hal ini sebagai pembelajaran dan sebagai alat saya untuk meningkatkan diri, berikan hamba karunia anda untuk menjalaninya lebih baik". Bukankah itu yang kita sebut doa selama ini yakni suatu kumpulan emosi dan rasa "penerimaan" yg selanjutnya seseorang persembahkan kepada Tuhan sebagai wujud harapan.
Segala keadaan dan emosi yang kita rasakan selama hidup ini sesungguhnya merupakan pundi-pundi doa yang telah lama kita sia-siakan. Mari kita berdoa, setiap saat, setiap waktu, hingga pada akhirnya kita akan di dekatkan kepada Tuhan dan mempunyai penyerahan diri dan selalu mengingatNya di segala kondisi.
