Pikiran pada sifat yang murni bersifat netral. Begitupula peristiwa, keadaan dan objek yang merupakan cerminan pikiran seseorang saat ini sejatinya juga bersifat netral. Yang membedakan hanya tingkat kesadaran yang berbeda.
Saat ini yang terjadi terhadap diri kita adalah pikiran kita diisi oleh tingkat kesadaran yang berbeda oleh karena itu masing-masing dari kita memiliki persepsi yang berbeda dari satu objek, pristiwa dan keadaan yang kita alami dalam hidup.
Disebutkan di Srimad Bhagavatam ketika Sukadeva Gosvami yang merupakan Penyembah yang murni telanjang bulat tanpa berpakaian melintasi wanita-wanita yang sedang mandi, beliau sama sekali tidak merasakan nafsu dan lain sebagainya karena pikiran beliau murni. Pikiran yang murni ini disebut dengan sama darsinah( equanimity of mind).
Di kedudukan "uttama adhikari" (Tingkatan tertinggi dalam kerohanian) tidak ada lagi ikatan keduniawian. Disebutkan di Bhagavad Gita ia tidak lagi melihat sesuatu hal sebagai musuh dan kawan, buat mereka pujian dan penghinaan adalah sama, kesengsaraan dan kebahagiaan adalah sama.
Kenapa seseorang yang agung dan mulia dapat mencapai keinsafan seperti itu ? Karena ia menyadari bahwa segala hal berasal dari pikiran dan segala hal yang ia rasakan sebagai hal yang baik dan buruk, material dan spiritual, kebahagiaan dan duka cita tidak lain merupakan persepsi dari tingkat kesadaranya. Jika tingkatan kesadaran masih dalam tingkatan jasmani, maka ia akan melihat segala hal hubunganya dengan badannya. Namun ketika kesadaranya murni dan rohani, Ia melihat segala hal bersifat rohani.
Kita yang berusaha meningkatkan kesadaran hendaknya mengikuti jejak langkah pejalan spiritual yang cenderung suka berjalan kedalam untuk meningkatkan kesadaranya hari demi hari menjadi lebih baik. Ia mengetahui bahwa ketika ia telah menjadi lebih baik, seluruh duniapun terasa lebih baik
